Tampilkan postingan dengan label Religius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religius. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juli 2009

Mengenal Siapa Diri Sejati Kita

Para pembaca yang budiman,
Selama kita hidup di dunia ini sudahkah kita mengenal diri sejati kita...
sebab ini sangatlah penting dikarenakan sebelum kita mengenal orang lain, mengenal lingkungan, mengenal alam, bahkan mengenal Tuhan kita seyogyanya sudah mengenal siapa diri kita sebenarnya..

Lalu pertanyaannya sudahkah kita mengenal diri kita.
dan siapa sebenarnya diri sejati kita?
Apakah diri kita itu adalah sosok berwujud yang berupa tangan, kaki, badan dsb. yang tampak waktu kita berada didepan cermin.Mungkin jawaban tersebut sangat tepat bila kita lihat dari segi ilmu biologi.tapi apakah wujud yang tampak didepan cermin tadi sudah bisa dikatakan diri kita yang sebenarnya / sejati??

Kita hidup di alam dunia ini ibarat kita melakukan perjalanan dari satu kota ke kota yang lain..
anggap saja kita sedang berada di kota dunia..

di kota ini kita dipinjami motor oleh tuhan yaitu berupa badan/jasmani kita.stang berupa tangan, roda berupa kaki,tangki berupa perut, lampu berupa mata, bensin berupa nafas dsb.

dari analogi singkat tersebut tentu kita sudah bisa menebak bahwa wujud yang ada didepan cermin yang kita lihat tadi ternyata belum cukup untuk dikatakan diri sejati kita.

jadi apa yang kurang? dan siapa sebenarnya diri kita?

mari kita renungkan..

Seonggok motor yang ada didepan cermin tadi tidak akan mampu berjalan dan berfungsi klo tidak ada sang pengemudi. Sang pengemudi inilah yang nantinya sangat berpengaruh dalam memakai motor tadi. Dia mau jalan ditempat yang gelap atau terang, dia mau tertib aturan lalu lintas atau justru melanggarnya, semua tergantung dari sang pengemudi motor tadi. Jadi justru diri sejati kita sebenarnya terletak pada sang pengemudi motor tadi. Sudahkah mengenal sang pengemudi tadi, pengemudi dari motor yang tidak lain adalah pengemudi raga kita??

Penulis tidak ingin menggurui pembaca yang budiman karena penulis hanyalah orang yang penuh dengan kekurangan dan khilaf dan juga berstatus masih mencari siapa pengemudi dari raga penulis.

Maka carilah tahu siapa sebenarnya diri kita. Kalau ada dari pembaca yang budiman sudah tahu tentang diri sejatinya dan mungkin tahu tips tips untuk mengenal diri sejati kita silahkan di-share disini.

Mudah-mudahan kita segera tahu dan mengenal diri kita karena setelah kita tahu siapa diri kita yang sesungguhnya insya allah kita akan bisa mengenal siapa yang menciptakan kita (Yang menciptakan motor dan pengemudinya), Ciptaan ciptaan-Nya yang lain (Alam Semesta dan Isinya), Lingkungan, dan yang terpenting adalah makna hidup kita. Amien....

Rabu, 06 Mei 2009

Tafsir Surat Al Fatihah

Tafsir Surat Al-Fatihah
DALAM AL-QUR’AN, surat Al-Fatihah tercatat sebagai surat ke 114,
yang terdiri dari 7 ayat. Secara umum, ayat demi ayat serta surat demi
surat yang ada dalam al-Qur’an memanglah penting. Ia tetap menjadi
landasan spiritual yang urgen bagi setiap muslim. Keseluruhan huruf demi
huruf yang ada dalam al-Qur’an menjadi pegangan teologis kaum
muslimin yang tidak bisa ditawar lagi. Namun, secara spesifik, surat
al-Fatihah memiliki banyak “kelebihan” dibanding dengan
surat-surat lain. Atau, setidaknya, ia memiliki keistimewaan berbeda
dibandingkan dengan keistimewaan surat lain.
Sekedar menyebut salah satu keistimewaan surat al-Fatihah adalah bahwa ia
merupakan satu-satunya surat yang wajib dibaca saat seorang muslim
melakukan shalat — dan shalat sendiri merupakan satu-satunya format
ibadah vertikal yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Nabi Muhammad
Saw bahkan bersabda bahwa shalat seorang muslim tidak sah jika tidak
membaca surat al-Fatihah (Lâ sholâta liman lam yaqra’
bi-fâtihatil Kitâbi). Dalam kesempatan lain, Nabi Saw juga
menyatakan bahwa al-Fatihah merupakan induk al-Qur’an
(Ummul-Qur’ân). Masih banyak lagi maqôlah atau dedhawuhan
Nabi Muhammad Saw yang, intinya, menegaskan kelebihan surat al-Fatihah
dibanding surat-surat lain dalam al-Qur’an.
***
Mengapa surat al-Fatihah begitu urgen dan exclusive? Jika ditinjau dari
sisi contains, materi yang dibicarakan — atau tepatnya dinasehatkan
— dalam surat al-Fatihah ternyata sangatlah penting, khususnya bagi
proses rekonstruksi teologi kaum muslimin atau bahkan manusia
keseluruhannya. Berikut ini sedikit keterangan materi surat al-Fatihah
dari ayat per ayat.

[1] Bismillâhirrahmânirrahîm. “Dengan menyebut nama
Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
Ayat pertama ini menegaskan pentingnya penyebutan atau tepatnya pengakuan
manusia atas kuasa Tuhan, atas keesaan-Nya dan atas segala kebesarann-Nya.
Manusia diajarkan — dan diharuskan — mengakui ke-Maha
Pemurah-an Tuhan dan ke-Maha Penyayang-an-Nya. Di sini,
pengakuan-pengakuan itu merupakan harga mati atas setiap manusia. Jadi,
ayat ini bukan sekedar mengajarkan ‘penyebutan’ unsich atas
[nama] Tuhan, melainkan deklarasi atas kebesaran-Nya, yang pada ayat itu
direpresentasikan melalui lafadz ar-rahmân dan ar-rahîm.

[2] Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn. “Segala puji
bagi Tuhan, [yaitu] Tuhan bagi semesta alam”.
Setelah manusia mengakui segala kebesaran Tuhan, maka pada ayat kedua ini
Tuhan melalui surat al-Fatihah menasehatkan manusia supaya melakukan
pendekatan pribadi kepada-Nya, yaitu dengan cara memuji-Nya. Ini adalah
langkah pertama yang harus dilakukan manusia setelah ia menegaskan
pengakuan tadi. Sebenarnya, kebesaran Tuhan tidaklah berkurang tanpa
pujian manusia dan segenap makhluk, dan kebesaran-Nya pun tidak pula
bertambah dengan adanya pujian-pujian itu. Dengan demikian, ayat ini
sebenarnya lebih menekankan kepada pengajaran [at-Ta’lîm] dan
pendidikan [at-Tarbiyah] kepada manusia bagaimana dia berkomunikasi dengan
Tuhan yang telah dikenalnya tadi.
Pujian kepada Tuhan bukan tanpa sebab. Ia adalah pujian atas seluruh
kenikmatan yang telah diterima manusia. Kenikmatan terbesar dari Tuhan
kepada manusia, pada titik ini, adalah kenikmatan berupa pengetahuan
manusia atas Tuhannya. Ia bukan kenikmatan dalam arti sempit seperti
limpahan rezeki material dan semacamnya. Pada saat seorang hamba membaca
ayat ini, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw, maka Allah Swt
mengikutinya dengan ucapan hamida-nî ‘abdî, hambaku telah
memujiku. Masih menurut Nabi Muhammad Saw, pada saat hamba mengucapkan
ayat ini, maka itu berarti hamba tersebut bersyukur kepada Tuhan, sehingga
Tuhan pun akan menambahi rezeki.

[3] Arrahmânirrahîm. “[Tuhan] Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang”.
Pengulangan pujian ini untuk sebuah penegasan. Ar-Rahmân bermakna
[Tuhan] yang Maha Pemurah, atau Pengasih. Dia mengasihi seluruh makhluk
yang ada di dunia, baik yang beriman atau yang bukan. Sedangkan
ar-Rahîm bermakna mengasihi seluruh orang-orang yang beriman kelak di
akhirat.
Pada saat seorang hamba membaca ayat ini, sebagaimana disabdakan oleh Nabi
Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan atsnâ ‘alayya
‘abdî, hambaku telah memuji kepadaku.

[4] Mâliki Yawmiddîn. “[Tuhan] Yang menguasai hari
kiamat
”.
Pengakuan sekaligus juga pujian, bahwa hanya Tuhanlah yang berkuasa pada
hari kiamat. Ini merupakan pujian ketiga berturut-turut, dan begitulah
pendidikan dari Tuhan kepada manusia.
Pada saat seorang hamba membaca ayat ini, sebagaimana disabdakan oleh Nabi
Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan majida-nî
‘abdî, hambaku telah memujiku.

[5] Iyyâka Na’budu... “Hanya Engkaulah yang kami
sembah”...
Setelah Tuhan mengajarkan manusia untuk melakukan pendekatan dengan
memuji-Nya, maka pada ayat kelima ini Tuhan memberikan pendidikan baru :
yaitu, setelah manusia melakukan puja dan puji kepada Tuhan, manusia
meneguhkan diri dengan melakukan deklarasi untuk secara konsisten
menyembah kepada-Nya.

Pada ayat di atas, Tuhan menggunakan kalimat Iyyâka Na’budu,
yang berarti Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan bukan kalimat
Na’budu-Ka, yang berarti Kami menyembah kepada-Mu. Pada kalimat
pertama secara jelas menegasikan seluruh hal dan hanya menyembah Tuhan,
sedangkan kalimat kedua bisa bermakna Kami menyembah kepada-Mu, tapi juga
mengagungkan yang lain.

[5] wa Iyyâka Nasta’în. “…dan hanya kepada
Engkaulah kami mohon pertolongan”.
Setelah mengajari manusia tentang metode pendekatan terhadap Tuhan,
beberapa pujian serta penegasan tentang sesembahan, barulah Tuhan
mengajarkan bahwa setelah manusia melakukan hal itu semua, maka manusia
diberi “kesempatan” untuk meminta pertolongan dan
perlindungan. Dan pertolongan serta permintaan itu dilakukan manusia hanya
ditujukan kepada Tuhan, bukan yang lain. Maka tepatlah kalau Tuhan
menggunakan kalimat wa Iyyâka Nasta’în, yang berarti dan
hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Pada saat seorang hamba membaca ayat kelima ini, sebagaimana disabdakan
oleh Nabi Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan hadza baynî
wa bayna ‘abdî, wa li-‘abdî mâ sa-ala, ini
adalah [urusan] antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku, [kuberikan]
apapun yang dia minta.
Sampai pada ayat ini, kita sebenarnya sudah bisa menangkap sebagian
falsafah dari surat al-Fatihah. Ringkasnya, hingga ayat ke 5 ini, adalah
sebagai berikut :
[i] manusia hendaklah mengenal Tuhannya, dan menjadikan Tuhannya sebagai
satu-satunya elemen penting dalam melakukan sesuatu.
[ii] manusia hendaklah melakukan pujian-pujian terhadap Tuhannya. Ia tentu
bukan bermakna sekedar pujian secara oral, melainkan meliputi juga
pengakuan penuh dari lubuk qalbu manusia atas segala kebesaran dan
keagungan Tuhan. Pujian-pujian itu merupakan alat untuk melakukan
pendekatan-pendekatan.
[iii] setelah melakukan pujian-pujian, manusia meneguhkan diri bahwa
kepada Tuhan-lah ia menyembah, dan sama sekali tidak melakukan sesembahan
atau pengagungan kepada yang lain.
[iv] setelah mengenal Tuhannya, melakukan pujian dan
pendekatan-pendekatan, serta peneguhan ketuhanan sang Tuhan, maka manusia
menyatakan diri bahwa hanya kepada-Nya pula para manusia melakukan
permintaan dan pertolongan.

[6] Ihdinas-Shirâthal Mustaqîm. “Tunjukilah kami jalan
yang lurus”,
Pengajaran Tuhan selanjutnya ; manusia tidak bisa berbuat sombong, oleh
karenanya ia diajarkan untuk selalu memohon dan meminta, yang dalam hal
ini adalah permintaan untuk sebuah kebenaran. Dan hanya kepada Tuhan
sajalah manusia itu memohon kebenaran. Makna kebenaran atau jalan yang
lurus di sini tentulah tidak sederhana, namun ia disimplifikasi pada ayat
berikutnya.

[7] Shirâthalladzîna An’amta ‘Alayhim
Ghoyril-Maghdhûbi ‘Alayhim walâdh-Dhôllîn.
“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat
kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan)
mereka yang sesat”.
Kenikmatan Tuhan hanyalah diberikan kepada orang-orang yang Dia kehendaki,
dan itu bukanlah kepada orang-orang yang dimurkai dan yang memilih jalan
sendiri. Abdullah ibn Abbas menyebutkan bahwa orang-orang yang telah
dianugerahi kenikmatan oleh Tuhan, di antaranya, adalah para nabi dan
orang-orang yang saleh, orang yang bersih jiwanya.
Pada saat seorang hamba membaca ayat keenam dan ketujuh, sebagaimana
disabdakan oleh Nabi Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan
— sama dengan pada ayat kelima — hadza baynî wa bayna
‘abdî, wa li-‘abdî mâ sa-ala, ini adalah
[urusan] antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku, [kuberikan] apapun
yang dia minta.
***
Demikianlah sekilas keterangan dari surat al-Fatihah. Semoga bermanfaat.
[Lasem, 18/4/2009].

M. LUTHFI THOMAFI
Sumber:Pesantren Virtual

Mulianya Memaafkan

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A'raf 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Yaitu orang2 yang menginfakkan hartanya ketika lapang dan sempit dan menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)


Menurut Harun Yahya Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.

Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang
Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

Mulai saat inilah tidak ada kata terlambat bagi kita untuk selalu introspeksi diri, sejauh mana dada dan hati kita memaafkan kesalahan orang lain atau meminta maaf atas segala kesalahan kita. Hindari sikap egoisme dalam diri yang membuat setiap manusia lupa akan hakikat jati dirinya. Karena manusia yang besar adalah manusia yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, tidak mudah marah, lapang dada dan hatinya serta selalu mementingkan kemaslahatan umma.

Oleh : Ustadz Agus Handoko
Sumber: pesantren virtual